Kamis, 22 Maret 2012

Teknik Material dan Metalurgi ITS siap berlaga pada ajang Shell Eco Marathon

Surabaya – Teknik Material dan Metalurgi ITS siap berlaga pada ajang Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2012 mendatang.  Saat ini mereka tengah mempersiapkan mobil hemat energi berbahan bakar air yang mereka namai Antasena.Tim Antasena yang merupakan mahasiswa dari Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, serta Teknik Mesin dan Mekatronika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) itu optimistis, Antasena akan menjuarai kompetisi tingkat dunia.
   
Penanggung jawab Antasena, Achmad Fachrudiin menyatakan, ide penggarapan mobil mungil itu bermula dari pembatasan kendaraan penyebab macet dan polusi udara di Indonesia.

"Konsep Antasena sebagai mobil hemat energi telah ada sejak tahun lalu," kata Fachruddin seperti dinukil dari laman ITS, Kamis (22/3/2012). 

"Antasena adalah mobil dengan bahan bakar hidrogen pertama yang menjadi peserta Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2012 mendatang, sehingga diharapkan menjadi catatan prestasi tersendiri bagi kami mahasiswa teknik material dan metalurgi ITS" ungkap cowok ganteng yang biasa dipanggil mukhamad aziz.



Nama Antasena, kata Fachruddin, diusulkan oleh mahasiswa jurusan Teknik Material dan Metalurgi angkatan 2007 Wipri Alma. Dalam kisah pewayangan Jawa, Antasena merupakan putra bungsu Bimasena dan saudara lain ibu dari Antareja dan Gatotkaca.  Diketahui, Antasena memiliki keunggulan menyelam di air.

"Keunggulan itulah yang mendasari tim menamai mobil buatan mereka dengan Antasena," imbuhnya. 

Fachruddin memaparkan, Antasena menggunakan bahan bakar air yang telah mengalami proses elektrolisis untuk menghasilkan energi. Pemilihan air sebagai bahan bakar, memiliki alasan khusus. Tim Antasena, kata Fachruddin, sangat prihatin dengan sumber bahan tambang dunia yang makin minim.

Pada ajang SEM Asia 2012, Antasena merupakan satu-satunya mobil berbahan bakar hidrogen. Keunggulan lainnya adalah, karena memakai karbon fiber, bobot Antasena pun cukup ringan, hanya 40 kilogram. Tim Antasena juga memakai hub motor yang efisiensinya mencapai 94 persen.

Untuk desain, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Ariza Fajri dan Denis Firmasyah memilih konsep aerodinamis agar Antasena dapat melaju tanpa hambatan. Konsep ini memang memperkecil gaya gesek mesin dengan udara.

Fachrudin mengaku, pembuatan Antasena telah mencapai 60 persen. Tim tengah membangun rangka mobil di Jurusan Teknik Material dan Metalurgi, sedangkan sensor penggerak dikerjakan di PENS. Kemudian, tim beranggotakan delapan orang petugas teknis dan empat petugas non-teknis ini pun siap merangkai Antasena.

"Kami menargetkan pada pertengahan April mendatang, Antasena rampung digarap, di luar fuel cell-nya. Dan pada Mei, Antasena pun akan sudah menjadi mobil yang sempurna," katanya mantap.

Mobil yang mendatangkan mesin langsung dari Swiss ini menghabiskan dana sekira Rp65 juta. Meski belum rampung dibuat, Antasena telah menarik minat banyak investor seperti PT Bukit Asam, PT Garuda Indonesia, dan Sasa Inti.(Aziz)

Desain Antasena, mobil hemat energi dari ITS (Foto: dok. ITS)

3 komentar:

micin_penyok mengatakan...

assalamualaikum wr wb
saya achmad fachrudin penanggung jawab antasena team

ada kesalahan redaksional yang dipaparkan oleh penulis dimana kendaraan ini tidak menggunakan bahan bakar AIR melainkan Hidrogen(H2)yang dihasilkan melalui pemisahan senyawa H2O(air).

harapan saya agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman antare pembaca dan maksud yang diberikan

wassalamualaikum wr wb

Achmad mengatakan...

lah namanya sama, achmad fachrudin :D
saya mau masuk ITS tahun ini...

Anonim mengatakan...

bkn air tp hidrogen

Poskan Komentar

TINGGALKAN SEBUAH KOMENTAR

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons